Rektor Undana Kukuhkan Prof. Lince Mukkun dan Prof. Wilmientje Nalley Jadi Guru Besar

Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menorehkan prestasi yang amat membanggakan seluruh civitas akademika. Betapa tidak, dalam waktu bersamaan, dua srikandi Undana dikukuhkan menjadi Guru Besar. Peristiwa itu, baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah berdirinya Undana tahun 1962 silam. Kedua Guru Besar tersebut adalah Prof. Ir. Lince Mukkun, MS., Ph. D (Bidang Teknologi Pasca Panen, Fakultas Pertanian) dan Prof. Dr. Ir. Wilmientje Mariene Nalley, MS (Bidang Bioteknologi Peternakan dan Ilmu Reproduksi Ternak, Fakultas Peternakan).

Guru Besar ke-37 dan 38 Undana itu dikukuhkan Rektor Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa di Auditorium Undana, Kamis (30/9/2021). Hadir 51 anggota senat, para guru besar, sejumlah pimpinan unit di Undana, serta sejumlah dosen Faperta, maupun Fapet Undana, dan para keluarga dua profesor yang dikukuhkan.

Sebagai orator pertama, Prof. Ir. Lince Mukkun, MS., Ph. D dalam pidato berjudul ‘Peranan Teknologi Pasca Panen dalam Menekan Kehilangan Pangan dalam Rangka Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat’, menyebut, penanganan pascapanen sangat penting untuk mencegah kehilangan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam orasi itu, Prof. Lince Mukkun membahas aspek pascapanen bahan pangan yang penting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai daerah lahan kering kepulauan, yaitu jagung dan sorgum, yang menjadi fokus penelitiannya sejak 2014 hingga 2019.

Untuk itu, alumni Curtin University itu menyampaikan sejumlah penegasan, diantaranya adalah: Pertama, penanganan pascapanen hasil pertanian berperan sangat penting dalam usaha peningkatan ketersediaan dan ketahanan pangan penduduk, dengan cara menekan food loss baik kuantitas maupun kualitas. Kedua, jagung sebagai pangan andalan NTT perlu mendapat perhatian serius, terutama penerapan teknologi pascapanen pada setiap rantai pascapanen untuk mencegah kerusakan maupun kehilangan kualitas maupun kuantitas. Ketiga, panen, pengeringan, dan penyimpanan jagung merupakan titik kritis dalam pengelolaan pascapanen jagung. Karena itu, perlu penerapan teknologi yang baik pada tahap tersebut.

Empat, sorgum lokal asal NTT memiliki keragaman yang tinggi, dengan sifat fisik dan kimia yang beragam, perlu dikembangkan guna mencegah kepunahan. Kelima, sorgum lokal terutama yang berwarna memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan pangan utama dan juga sebagai bahan pangan fungsional. “Sedangkan jenis lokal berwarna putih dapat dikembangkan menjadi tepung bebas gluten yang bernilai ekonomi tinggi,” papar ibu dari Adrian, Adriani, Priska Pakan itu. Keenam, kegiatan pascapanen sorgum mulai dari pemanenan, pengeringan, malai, perontokan, pembersihan, pengeringan biji, dan penyimpanan sangat penting untuk mendapat perhatian serius.

“Total kehilangan pascapanen yang dilakukan yaitu lebih dari 10 persen, dengan kehilangan terbesar pada kegiatan perontokan secara manual dan mesin tanpa dilengkapi penampung biji yang memadai,” terang alumni SMA Katolik Makale, Tana Toraja itu. Ketujuh, penyimpanan biji mengalami kerusakan serius sebagai akibat adanya serangan hama Sitophylus zeamays.Lebih lanjut, Prof. Lince Mukkun menjelaskan, infestasi hama ini telah terjadi sejak sorgum masih dipertanaman, karena panen yang terlambat, dan selama penundaan perontokan dan pengeringan. “Kadar air biji yang tinggi juga merupakan faktor penyebab kerusakan biji oleh hama dan jamur,” imbuhnya.

Prof. Dr. Ir. Wilmientje Mariene Nalley, MS dalam pidato berjudul ‘Pemanfaatan Hipofosis Limbah Rumah Potong Hewan sebagai Sumber Hormon Alamiah untuk Meningkatkan KinerjaReproduksi Ternak’, menegaskan, kinerja reproduksi dalam dunia peternakan sangat penting. Menurutnya, hal itu sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ternak, termasuk kesehatan organ reproduksinya.

Kinerja produksi, papar Prof. Wilmientje, mengacu pada kemampuan ternak untuk memproduksi anak dengan interval yang teratur. Ia menjelaskan, saat ini pengembangbiakan ternak dapat dilakukan secara alamiah ataupun menggunakan teknologi reproduksi. “Dalam beberapa kasus, untuk meningkatkan kinerja reproduksi ternak, dibutuhkan induksi hormon eksogen, untuk menunjang hormon endogen agar kinerja reproduksi berlangsung dengan optimal. Hormon yang digunakan antara lain, hormon untuk meningkatkan kualitas folikel dan menginduksi ovulasi,” papar alumni Institut Pertanian Bogor itu.

Menurut Prof. Wilmientje, hormon-hormon tersebut, tentu saja telah tersedia di pasaran, namun harganya mahal dan tidak selalu tersedia saat dibutuhkan. “Selama satu dekade terakhir, saya dan tim dosen di Bagian Reproduksi, Fakultas Peternakan Undana, bersama-sama dengan mahasiswa bimbingan S1 dan S2 telah melakukan serangkaian penelitian pemanfaatan limbah RPH berupa hipofisis untuk dibuat ekstrak dan diberikan kepada ternak dalam upaya untuk meningkatkan kinerja reproduksi pada berbagai jenis ternak,” jelas perempuan kelahiran 1960 itu.

Ia menyebut, hasil penelitian dan pembuktian in vivo yang dilakukannya telah dipublikasi dalam berbagai seminar nasional maupun internasional; dan jurnal nasional terakreditasi dan terindex Sinta satu dan dua. Sementara, ekstrak hipofisis, papar Prof. Wilmientje, secara komersial telah dijual di pasaran dengan nama dagang Bovine pituitary extract (New Zealand Origin) dan Pituitary extract bovine. Dikatakan, mengingat potensi pemotongan ternak sapi yang cukup tinggi di NTT dan telah terbuktinya, keampuan ekstrak hipofisis untuk meningkatkan kinerja reproduksi, maka penelitian ke depan akan difokuskan untuk isolasi atau bahan dari hipofisis untuk diaplikasikan langsung pada ternak.

“Pekerjaan ini tentu saja tidak dapat saya lakukan sendiri, kerjasama lintas keilmuan dibutuhkan baik di dalam Undana atau lintas instansi. Dukungan dari Dekan Fakultas Peternakan dan Rektor Undana sangat dibutuhkan agar ke depan ekstrak hipofisis dapat diproduksi, dipasarkan, dan dimanfaatkan secara optimal agar kinerja reproduksi ternak khususnya di NTT dapat ditingkatkan,” paparnya.

Sementara Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D dalam sambutannya, atas nama seluruh civitas akademika Undana, menyampaikan terima kasih kepada dua guru besar yang dikukuhkan saat itu. Rektor katakan, sejak Undana berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU), pimpinan Undana, dalam hal ini rektor memiliki kontrak kinerja dengan Mendikbudristek dan Menkeu. Salah satu yang diukur melalui Indokator Kinerja Utama (IKU) adalah meneruskan kontrak kinerja antara rektor dan dua kementerian tersebut hingga ke pimpinan unit paling bawah di Undana.

Dikatakan, pada masa kepemimpinannya tahun ini, minimal satu Guru Besar harus dihasilkan Undana. Namun, pihaknya patut berterima kasih, karena Undana berhasil mengukuhkan tiga Guru Besar sekaligus, dimana sebelumnya Prof. Yos Mau (Guru Besar Bidang Penyakit Tumbuhan, Faperta) telah dikukuhkan. “Bahkan (mungkin) juga tahun ini akan ada Profesor keempat yang dikukuhkan,” katanya.

Hal tesebut, sambung Prof. Fred, merupakan kinerja institusi yang akan dinilai Mendikbudristek maupun Menkeu guna memproyeksikan penghargaan atau reward. Untuk itu,  pihaknya sudah melakukan kontrak kinerja hingga ke unit paling bawah di Undana. “Seharusnya dalam kontrak kinerja saya, yang menghasilkan profesor adalah Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) dan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Meski dalam kontrak tersebut Dekan Faperta harus menghasilkan satu Guru Besar, tetapi saya berharap bisa dua. Dan, dengan upaya dan kerja keras kita semua, kita mampu menghasilkan tiga orang profesor. Dari Fapterta sudah dua, dan tambahan dari
Fapet, sekali lagi terima kasih kepada dua orang profesor yang dikukuhkan hari ini,” ucap Guru Besar Ekonomi Pertanian itu.

Tulis Buku

Sebagai tanggungjawab Guru Besar, Rektor Undana terus mendorong dua guru besar itu untuk terus menulis buku. “Minimal dalam tiga tahun, harus menulis satu buku, dan minimal menulis di jurnal bereputasi atau tidak bereputasi,” ujarnya. Dalam menjalankan tugas tridharma, lanjut Prof. Fred Benu, setiap kinerja Guru Besar ikut tercatat dalam sistem remunerasi. “Dan, reward Guru Besar dihitung setiap tiga bulan pada setiap semester. Meski sama-sama profesor tetapi gajinya tidak sama, tergantung jumlah publikasi, pengabdian, pengajaran, dan penunjang lainnya,” jelas Rektor Undana.

Saat ini, lanjut Prof. Fred, sudah banyak penerbit di Indonesia. Karena itu, ia mengajak para Guru Besar agar memotivasi diri sendiri untuk menulis buku. “Maaf kalau saya contohkan Prof. Alo Liliweri, bukunya bisa ditemukan di Gramedia, platform penjualan Shopee, Lazada maupun Bukalapak. Saya percaya kedua Profesor ini juga akan berkinerja baik dan bertanggungjawab terhadap rektor, karena kinerja Guru Besar sebagai refleksi terhadap kinerja institusi,” tandasnya. (rfl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *